Selasa, 27 Maret 2012

Mengelola Iri Dengan Benar


Setiap orang tentu pernah iri pada keberhasilan yang dicapai oleh orang lain. Anda tidak jahat, karena perasaan iri sebenarnya bukanlah sesuatu yang salah. Justru aneh jika Anda tdak pernah merasakan apapun jika ada orang lain sukses. Mungkin Anda sedang sibuk menipu diri sendiri bahwa hidup Anda sudah berkecukupan. Rasa iri pada dasarnya ada 2 jenis:

1. Rasa Iri Yang Negatif.
Rasa iri yang negative, bisa merusak diri sendiri dan orang lain. Misalnya sampai menyindir rekan yang lebih sukses, menggosipkannya sampai dengan menjelek-jelekan rekan Anda, karena tidak rela kalau banyak orang mengaguminya. Rasa Iri bisa menjadi kronis, ketika Anda lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpikir buruk tentang orang lain yang lebih sukses tersebut, meratapi betapa malang nasib Anda dan betapa tidak adilnya dunia ini. Apalagi jika Anda sampai menelantarkan kerja, merusak karir, keluarga dan hasil jerih payah selama ini, untuk memenuhi kepala Anda dengan mencari cara bagaimama menjatuhkna rekan yang sukses tersebut.

2. Rasa Iri Yang Positif.
Rasa iri yang positif atau rasa iri yang sehat adalah jika iri tersebut mampu Anda salurkan untuk memacu diri lebih baik lagi. Ketika Anda menjadikan iri sebagai pemacu semangat.
Yang namanya manusia memang tidak pernah luput dari salah, untuk itu perlu melakukan sesuatu agar rasa iri yang Anda rasakan di tempat kerja bisa menjadi hal yang positif bagi Anda dan orang-orang di sekitar Anda.
Berikut ini Tips bagaimana mengelola rasa iri dengan benar:
1.Jujur kepada diri sendiri, mengakui kalau Anda iri pada seseorang. Percayalah, tanpa mau mengakui kalau Anda iri, masalahnya tidak akan menjadi lebih baik.
2. Ubah pendapat tentang “Apa sih hebatnya dia? Lebih pintar juga saya, yang lebih baik kerjanya juga saya.” Jika melulu melihat kesuksesan orang lain sebagai suatu kebetulan dan orang sukses itu sebenarnya tidak pantas mendapatkan kesuksesannya, maka Anda membiarkan diri, energi, waktu terbuang untuk memusingkan orang lain. Ketimbang untuk berkonsentrasi dengan diri sendiri.

3. Jangan pernah beranggapan bahwa ketidaksuksesan adalah sebuah nasib.
Anda sendiri yang menentukan hidup Anda. Self Pity, meratapi nasib, apalagi sampai menyalahkan orang lan untuk kegagalan diri, tidak akan mengubah “nasib” menjadi lebih baik. Sebaliknya, semakin sering menempatkan diri sebagai looser, semakin Anda kehilngan rasa percaya diri, semakin Anda tidak berkonsentrasi dengan kerja, semakin buruk kinerja dan hidup Anda.

4. Jika Anda bertanya secara baik-baik, bukan tidak mungkin orang yang sukses akan membeberkan rahasianya. Dengan demikian Anda dapat belajar dari resep sukses mereka. Yang perlu diingat, tidak harus mem-fotocopy pribadi orang lain untuk menjadi sukses. Anda mungkin meniru kerja kerasnya, tapi bukan berarti harus memakai baju atau bergaya sama dengannya.
5. Buat record hasil kerja per minggu, per bulan, per semester, per tahun. Sehingga Anda punya bukti, sejauh mana sebenarnya kinerja Anda. Jika yakin dengan keberhasilan Anda, tunjukkan kepada atasan. Tanyakan kepada atasan apa yang ia pikirkan tentang kinerja Anda, mengapa Anda juga belum naik tingkat. Diskusikan juga apa kriteria kenaikan gaji dan jabatan perusahaan. Tidak semua atasan tahu detil produktvitas karyawannya, karena itu Anda sendiri yang mesti mengambil inisiatif.
6. Kalau benar-benar yakin sudah diperlakukan secara tidak adil oleh perusahaan (bukan oleh orang yang Anda iri), mungkin waktunya berpikir untuk pindah kerja. Nasib tidak akan berubah, hanya dengan iri terhadap rekan kerja lain dan kesal pada perusahaan, bukan?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar