Senin, 14 Mei 2012

Ketika Komunikasi Macet


Ketika komunikasi macet, jalanan macet, ide menulis macet, proses penyembuhan macet, proses menuju kebebasan macet, maka rasa frustasi yang mengalir, masuk ke dalam jiwa, merasuki tulang. Hati yang panas semakin gerah, jiwa yang lelah terasa ingin menyerah.
Daripada menyesali hal-hal yang kubutuhkan atau harapkan untuk berjalan kembali tetapi nyatanya tak kunjung bergerak, atau menyumpahi keadaan dan kecerobohan yang telah menimbulkan macet, lebih baik diam sejenak. Ada yang terlupakankah ? Tenang, tersenyum, berharap, dan sadar.
Mungkin selama ini ku sudah bergerak terlalu laju, sehingga tidak sempat mendongak menikmati kerlipan bintang di langit malam, atau tersenyum kepada matahari pagi yang memberi kehidupan. Mengulurkan tangan kepada anak-anak yang merindukan sapaanku. Dan menyapa jiwaku sendiri yang kering karena kerutinan. Mungkin hatiku sudah terlalu penuh dengan ambisi dan keinginan-keinginan duniawi, mungkin ini saatnya membersihkan nurani, memurnikan motivasi, menyadari pemeliharaan Illahi, yang sesungguhnya tak pernah sepi. Hanya jarang mendapat apresiasi.
Macet memang menyebalkan, tidak ada ide, tidak ada kelanjutan, harapan menggantung, kepastian melayang. Macet membuat bahtera hidup terhenti, dan semua aspirasi seakan mati. Tetapi mungkin itulah saat yang tepat untuk meluruskan kemudi, mengistirahatkan kendali, dan menyelaraskan diri dengan kehendak Illahi, supaya kita sungguh sampai ke tujuan kita yang hakiki.

Terimakasih macet.

Rabu, 02 Mei 2012

Are You A Bad Boss?


Tentu Anda ingat, sebelum memegang posisi sebagai atasan, Anda juga pernah merasakan suka duka jadi seorang karyawan. Ada saat-saat ketika karena suatu hal Anda tidak puas dengan kepemimpinan boss Anda, lalu dengan serta merta menganugerahi gelar “the bad boss’ untuk atasan tersebut. Dengan kekesalan yang berapi-api pembalasan pun direncanakan terhadap atasan Anda. Lebih ekstrem lagi, beberapa orang bahkan diam-diam memiliki niat untuk meluapkan ketidaksukaan mereka kepada atasan dengan kontak fisik yang membahayakan. Walaupun hal ini hanya sebatas wacana saja, tapi sungguh tidak ada jaminan bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan sang karyawan.
Ketika Anda sudah memiliki posisi yang sama dengan atasan Anda dulu, memimpin dan mengelola anak buah, bukan tidak mungkin salah satu dari mereka mengalami hal yang dulu pernah Anda rasakan. Tanpa Anda sadari mereka memendam ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Anda, atau terhadap hak dan kewajiban yang mereka terima.
Kepemimpinan dan mengelola tim memang tidak harus memuaskan hati semua orang. Tidak ada rumus yang 100% tepat dan akurat untuk menjalankan kepemimpinan karena ini adalah hal rumit yang sulit untuk dilaksanakan dengan sempurna. Untuk meminimalisir kemungkinan Anda dilabeli dengan “bad boss”, salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah mengenali kepemimpinan Anda dan efektifitasnya terhadap anak buah Anda serta terus mengembangkan dan mendewasakan karakter Anda sebagai pemimpin. Kenali juga kelemahan Anda dan berusahalah untuk memperbaikinya.
Beberapa ciri yang sebaiknya Anda pertahankan atau capai agar tidak memiliki predikat the bad boss antara lain :
Going down. A bad boss tidak akan mengetahui kesulitan yang dihadapi anggota timnya. Filsuf Lao-Tzu pernah berkata bahwa "If you want to govern the people, you must place yourself below them." Menjadi seorang atasan tidak berarti Anda harus selalu ada di ‘atas’ sehingga anggota tim Anda sulit untuk ‘meraih’ Anda. Investasikan waktu dan tenaga untuk mengetahui detail pekerjaan yang dilakukan dan situasi kerja yang dihadapi anak buah Anda sehari-hari. Ketahui kesulitan yang dihadapi setiap anak buah Anda dan diskusikan solusi yang paling tepat. Tunjukkan bahwa Anda bersedia untuk dekat dan turut ambil bagian dalam proses pekerjaan tim Anda.
Sampaikan dan ketahui dengan jelasA bad boss hanya akan memberikan perintah namun tidak tahu setiap detail yang dibutuhkan untuk mencapainya. A bad boss ingin mendapatkan hasil bagus tanpa ingin tahu kesulitan yang dihadapi anggota timnya. Ada anggapan yang menyatakan bahwa seorang atasan memiliki keleluasaan untuk memberikan berbagai perintah atau tugas bagi anak buahnya. Akan tetapi yakinkah Anda bahwa esensi dari tugas yang diberikan diterima dan dimengerti oleh anggota tim dengan sempurna? Bila Anda mendapati masalah, sebelum menyalahkan mereka, apakah Anda sudah mengetahui apa yang sebenarnya Anda harapkan dalam pemberian perintah tersebut? Apakah Anda mengetahui big picture dan setiap detail dari tugas tersebut? Pastikan Anda mengetahui setiap aspek dari tugas yang dibebankan dan menyampaikannya dengan jelas. Konfirmasikan apakah anak buah Anda mengetahui dengan jelas perintah Anda.
Bijaksana menghadapi masalah. A bad boss akan menyalahkan anggota timnya atau faktor lainnya saat menghadapi masalah. Ada anggapan menyesatkan bagi sebagian orang bahwa masalah tidak akan jadi sebuah masalah jika tidak diketahui keberadaannya. Karena itu banyak orang bahkan juga pemimpin yang berusaha untuk melarikan diri dari sebuah persoalan lalu berharap persoalan tersebut akan mereda dengan sendirinya. Pemimpin berkarakter justru akan mengharapkan masalah agar bisa mempersiapkan antisipasi dan solusinya.
Terbuka terhadap kritik. A bad boss tidak menerima kritikan, bahkan akan tersinggung saat dikritik oleh anggota timnya. Pemimpin yang menggunakan metode komunikasi satu arah, atau dengan kata lain tidak bisa menerima kritikan dari anggota timnya, menghendaki setiap perkataannya dituruti, dan tidak menghiraukan aspirasi dan masukan dari timnya hanya akan membuat mereka kehilangan respect atau rasa hormat. Dorong setiap anggota tim Anda untuk menyuarakan pendapat atau kritik mereka terhadap kebijaksanaan atau policy yang Anda buat. Bagaimanapun 'toh keputusan ada di tangan Anda.

Remember! 
Semua pemimpin yang baik, pernah melalui fase pembentukan yang tidak baik, so biasakan diri Anda dibentuk oleh organisasi Anda. 

salam....

(share from Chandra Ming (General Manager JobsDB.com)

Selasa, 01 Mei 2012

KISAH BESI DAN AIR


Ada dua benda yang bersahabat karib yaitu besi dan air. Besi seringkali berbangga akan dirinya sendiri. Ia sering menyombong kepada sahabatnya :
"Lihat ini aku, kuat dan keras. Aku tidak seperti kamu yang lemah dan lunak" Air hanya diam saja mendengar tingkah sahabatnya.

Suatu hari besi menantang air berlomba untuk menembus suatu gua dan mengatasi segala rintangan yang ada di sana . Aturannya : "Barang siapa dapat melewati gua itu dengan selamat tanpa terluka maka ia dinyatakan menang" Besi dan air pun mulai berlomba : Rintangan pertama mereka ialah mereka harus melalui penjaga gua itu yaitu batu-batu yang keras dan tajam. Besi mulai menunjukkan kekuatannya, Ia menabrakkan dirinya ke batu-batuan itu.Tetapi karena kekerasannya batu-batuan itu mulai runtuh menyerangnya dan besipun banyak terluka di sana sini karena melawan batu-batuan itu.

Air melakukan tugasnya ia menetes sedikit demi sedikit untuk melawan bebatuan itu, ia lembut mengikis bebatuan itu sehingga bebatuan lainnya tidak terganggu dan tidak menyadarinya, ia hanya melubangi seperlunya saja untuk lewat tetapi tidak merusak lainnya.

Score air dan besi 1 : 0 untuk rintangan ini. Rintangan kedua mereka ialah mereka harus melalui berbagai celah sempit untuk tiba di dasar gua. Besi merasakan kekuatannya, ia mengubah dirinya menjadi mata bor yang kuat dan ia mulai berputar untuk menembus celah-celah itu. Tetapi celah-celah itu ternyata cukup sulit untuk ditembus, semakin keras ia berputar memang celah itu semakin hancur tetapi iapun juga semakin terluka.

Air dengan santainya merubah dirinya mengikuti bentuk celah-celah itu. Ia mengalir santai dan karena bentuknya yang bisa berubah ia bisa dengan leluasa tanpa terluka mengalir melalui celah-celah itu dan tiba dengan cepat didasar gua. Score air dan besi 2 : 0

Rintangan ketiga ialah mereka harus dapat melewati suatu lembah dan tiba di luar gua besi kesulitan mengatasi rintangan ini, ia tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya ia berkata kepada air : "Score kita 2 : 0, aku akan mengakui kehebatanmu jika engkau dapat melalui rintangan terakhir ini !"

Airpun segera menggenang sebenarnya ia pun kesulitan mengatasi rintangan ini,tetapi kemudian ia membiarkan sang matahari membantunya untuk menguap.
Ia terbang dengan ringan menjadi awan, kemudian ia meminta bantuan angin untuk meniupnya kesebarang dan mengembunkannya. Maka air turun sebagai hujan. Air menang telak atas besi dengan score 3 : 0.

Jadikanlah hidupmu seperti air. Ia dapat memperoleh sesuatu dengan kelembutannya tanpa merusak dan mengacaukan karena dengan sedikit demi sedikit ia bergerak tetapi ia dapat menembus bebatuan yang keras. Ingat hati seseorang hanya dapat dibuka dengan kelembutan dan kasih bukan dengan paksaan dan kekerasan. Kekerasan hanya menimbulkan dendam dan paksaan hanya menimbulkan keinginan untuk membela diri.

Air selalu merubah bentuknya sesuai dengan lingkungannya, ia flexibel dan tidak kaku karena itu ia dapat diterima oleh lingkungannya dan tidak ada yang bertentangan dengan dia. Air tidak putus asa, Ia tetap mengalir meskipun melalui celah terkecil sekalipun. Ia tidak putus asa. Dan sekalipun air mengalami suatu kemustahilan untuk mengatasi masalahnya, padanya masih dikaruniakan kemampuan untuk merubah diri menjadi uap.
Semoga bermanfaat...


Sumber : IndoForum.org



Jumat, 27 April 2012

Fungsikan Dua Telinga dan Satu Hati Kita....


Tuhan memberikan dua telinga dan satu mulut pada kita dengan maksud bahwa kita ini harus lebih banyak mendengar dari berbicara. Sebelumnya, mari kita hitung proporsi kegiatan mendengar dan berbicara. Apakah kita lebih banyak mendengar ataukah berbicara?

Pada dasarnya kebutuhan manusia yang paling dalam adalah keinginan agar perasaannya didengar, diterima, dimengerti dan dihargai. Sebelum lebih jauh, saya ingin mengingatkan bahwa komunikasi itu adalah kegiatan pertukaran informasi yang melibatkan pihak yang berbicara dan pendengar; kegiatan ini harus berjalan dua arah.Banyak sekali kita membaca atau mendengar keluhan orang-orang; atau justru kita sendiri yang mengeluh; bahwa kita merasa sendirian di dunia yang ramai dan hiruk pikuk ini, karena tidak ada yang mau mendengarkan apa yang kita ucapkan dan rasakan. Hal ini menjadi bukti bahwa ternyata, mendengar dapat menjadi salah satu hambatan dalam komunikasi. Mendengar merupakan suatu keterampilan yang sulit untuk dipelajari dan dipraktekkan. Kita cenderung lebih suka untuk berbicara (didengarkan) dari mendengarkan. Sering kali kita tidak menyadari bahwa perilaku kita dalam mendengarkan seseorang berbicara sebenarnya dapat mempengaruhi keinginan lawan bicara kita untuk melanjutkan atau menghentikan pembicaraannya.

Secara umum, kegiatan mendengar ini mengikuti empat tahapan penting yaitu memberi perhatian, elaborasi, merespon dan mengingat. Memperhatikan adalah ketika kita memutuskan untuk mendengarkan atau memusatkan perhatian pada sesuatu. Elaborasi adalah berusaha mengerti apa yang disampaikan oleh lawan bicara. Respon yang kita berikan, seharusnya adalah suatu tanggapan yang berarti.Yang Terakhir, Mengingat adalah proses menyimpan informasi, kesan, dan pengalaman.

Ternyata menjadi pendengar saja tidak cukup dalam bersosialisasi dan berhubungan dengan orang lain. Ada tuntutan yang lebih, yaitu menjadi pendengar yang aktif, mengingat proses komunikasi adalah suatu proses yang timbak balik dan sering dalam komunikasi itu diharapkan lahir sebuah solusi pada sebuah permasalahan. Lalu, yang disebut mendengar aktif itu seperti apa? Menurut berbagai sumber, pada proses mendengar aktif terpusat pada siapa yang kita dengarkan untuk mengerti apa yang dikatakan oleh lawan bicara. Sebagai pendengar, kita kemudian harus mungkin mengulang kembali dengan kata-kata kita sendiri mengenai apa yang dikatakan lawan bicara tentang perasaan mereka. Ini tidak berarti kita setuju begitu saja, tetapi cenderung pada mengerti apa yang dikatakan.

Sebetulnya, kemampuan berkomunikasi yang baik membutuhkan kesadaran diri yang baik. Untuk itu kita direkomendasikan untuk mengenal diri kita sendiri, berdasarkan tipe kepribadian misalnya. Setiap tipe kepribadian memiliki gaya berkomunikasi yang khas. Tentunya dengan mengenal gaya berkomunikasi, kita akan memperoleh penghargaan yang baik dari orang lain. Misalnya, seseorang yang bertipe kepribadian dominance (dalam pembagian tipe kepribadian DISC), biasanya gaya berkomunikasi tipe dominan ini adalah 'telling'. Pada tipe ini, mungkin kelemahannya adalah pada saat mendengarkan. Dengan mengetahui kelemahan ini, maka yang bersangkutan harus banyak - banyak berlatih untuk menahan hasratnya untuk bicara ketika dia harus mendengarkan lawan bicaranya. Demikian halnya untuk orang yang memiliki tipe kepribadian influence, compliance atau steadiness.
Mari kita simak percakapan antara ibu dan anaknya berikut ini.

Anak: "Aku benci, sebel banget sama Kuncung"
Ibu: "Eh, kok ngomongnya gitu sih. Nggak bisa sebel sama temen sendiri ".
Anak: "Abisnya Kuncung bikin aku malu. Masak aku dikatain pelit di depan teman-teman .. "
Ibu: "Kuncung bilang begitu pasti karena kamu nggak mau berbagi, ya kan? Kebiasaan kamu tuh, nggak mau berbagi sama temannya. Itulah hukumannya kalau kamu nggak mau berbagi. Padahal temanmu sering meminjamkan mainannya ke kamu. Berapa kali Ibu harus mengingatkan kamu untuk mau berbagi dan nggak bisa pelit? Kalau saja kamu dengerin kata-kata Ibu pasti hal itu ga akan terjadi. "
Anak: "Ah, Ibu cerewet .."
Ibu: "Eh, yang sopan ya kalau ngomong sama Ibumu ..!"
Anak: "Iya, iya aku yang salah terus, ibu yang benar terus. Ah .. Ibu rese ', nggak pernah ngerti perasaanku. "

Lalu bedakan dengan yang ini.

Anak: "Aku benci, sebel banget sama Kuncung"
Ibu: "Adik lagi kesel banget ya?".
Anak: "Abisnya Kuncung bikin aku malu. Masak aku dikatain pelit di depan teman-teman .. "
Ibu: "Oh ya? Terus gimana?. "
Anak: "Tadi Kuncung kepengen minjem mainan baruku. Biasanya kan kalo main rame - rame anak-anak pada rebutan, Bu. Padahal aku nggak kepengen mainanku rusak gara-gara dibuat rebutan sama temen-temen yang lain. Itu kan hadiah dari Ayah, mainan kesayanganku. "
Ibu: "Jadi sebenernya kamu nggak bermaksud untuk nggak mau berbagi kan ..?"
Anak: "Iya, aku maunya tadi kita main sepedahan aja. Lain kali kalau mau main, aku simpan mainanku dulu, biar nggak pada rebutan, biar mainanku nggak rusak. "
Ibu: "Ya sudah, kalau begitu besok kalian baikan lagi ya?"
Anak: "Iya Bu, makasih ya?"

Pada dialog yang kedua, Sang Ibu menerapkan prinsip mendengar aktif, sehingga anak merasa Ibunya memahami perasaannya, dan yang terpenting, dia berhasil menemukan sendiri solusi dari masalahnya.
Dalam mendengar aktif, ada tahapan, yaitu Mendengar, Bertanya, merefleksikan - menyatakan ulang, dan Persetujuan. Pada tahap mendengarkan, kita mencoba merasakan muatan emosi dari kata-kata yang terucap dari lawan bicara, usahakan tetap fokus pada lawan bicara, dan jangan lupa gunakan pendekatan verbal dan non-verbal. Pendekatan non-verbal ini dapat berupa genggaman tangan, pelukan, atau usapan di kepala atau punggung (tentunya hal ini tidak bisa dilakukan jika lawan bicara adalah bukan muhrim kita), atau paling tidak bahasa tubuh yang menunjukkan bahwa kita memperhatikan setiap kalimat lawan bicara. Pendekatan verbal dapat dilakukan dengan mengungkapkan respon mendengarkan aktif dan empatik seperti:
• Anda kedengarannya ...............
• Anda tampaknya ................
• Bagi Anda hal itu pasti seperti ............
• Itu pasti menjengkelkan .............
• Jika saya berada dalam posisi Anda, saya akan merasa ...................
• Dan sebagainya
Kemudian pada tahap selanjutnya yaitu tahap bertanya, sebaiknya kita menunjukkan bahwa kita mendengarkan, tahap ini sebenarnya memiliki maksud untuk menggali informasi, dan melakukan klarifikasi, karena sebagai pendengar kita dituntut pula untuk menjadi pendengar yang adil dan tidak memihak. Selanjutnya pada tahap merefleksikan, kita nyatakan kembali dalam bahasa kita apa yang dikatakan lawan bicara, kemudian nyatakan perasaan kita sebagai tanda bahwa kita berempati, lalu kita coba untuk membingkai ulang pernyataan lawan bicara. Dalam hal ini, nyatakan inti dari percakapan, hindari bingkai negatif dan arahkan pembicaraan ke solusi masalah.Terakhir, pada tahap persetujuan, Dapatkan perhatian lawan bicara pada refleksi kita dan sampaikan sebuah 'pesan' bahwa sebetulnya solusi sudah dekat!
Kita tentu ingat dengan kebiasaan kelima pada 7 kebiasaan pribadi yang efektif yaitu "Seek first to understand, then to be understood". Kita diminta untuk mengerti terlebih dahulu sebelum akhirnya dimengerti. Mendengar adalah langkah awal untuk mengerti orang lain dan untuk mengerti, tentunya kita diminta untuk berempati. Sehingga bisa dikatakan bahwa inti dari mendengar aktif ini adalah empati.

Untuk menjadi seorang 'Active Listener', ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya adalah berikan perhatian, jangan lupakan kontak mata, 'dengarkan' bahasa tubuh lawan bicara, tunjukkan bahwa Anda mendengarkan dengan mencondongkan badan ke arah lawan bicara, berikan umpan balik dengan memberikan pertanyaan yang berarti di saat yang tepat, hindari memberikan penilaian secara subjektif, jangan menyela dan beri kesempatan lawan bicara menyelesaikan kalimatnya, dan terakhir, perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang.

Jadi mari kita memfungsikan telinga dan hati kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan mendahulukan mendengarkan dari keinginan untuk didengarkan. 
Karena sebenarnya the fisrt duty of LOVE is to LISTEN.

salam....

(sumber: 7 habits by Covey, berbagai cerita motivasi)

Mengertilah Dahulu, Sebelum Berdebat


Bahasa merupakan alat komunikasi untuk menyalurkan inspirasi manusia itu sendiri. Hubungan antar manusia dengan manusia di mana saja tidak luput menggunakan bahasa / bicara. Oleh karena itu, tehnik dan kesenian berbahasa akan menunjukkan ke-intelektual-an seseorang. Pandai menggunakan bahasa yang indah dapat menimbulkan pendekatan / keakraban bahkan kekaguman pada lawan bicaranya.

Manusia merupakan makhluk sosial (makhluk berkelompok), dia tidak bisa hidup menyendiri lepas dari ke-kelompok-annya. Setiap hari dia pasti ada hubungan/kontak dengan orang lain, juga tidak luput untuk saling berbicara, berdebat, atau adu argumentasi. Maka dari itu dibutuhkan untuk mencari sesuatu teknik bicara yang baik untuk pembicara itu sendiri.

Kita berkumpul berbicara, tentu saling ingin menyalurkan pikiran, pendapat, inspirasi kepada rekan bicara, supaya kawan bicara itu bisa menerimanya. Biasanya ketika sekelompok orang tersebut memiliki kesamaan pengalaman hidup atau pengertian (pendidikan) yang sederajat, maka bicaranya akan lebih mudah dimengerti karena visinya berdekatan. Jadi, kalau berbicara pasti akan lebih semangat dan menyenangkan sesamanya (asyik pembicaraannya). Tetapi sebaliknya, jika sekelompok orang tersebut tidak memiliki kesamaan pengalaman hidup atau pengertian (pendidikan) yang tidak sederajat, bisa jadi mereka adu argumentasi sampai berubah menjadi perdebatan panjang.

Tiap hari bicara dengan orang lain, kalau ada perbedaan pandangan atau pendapat itu wajar-wajar saja, yang dimaksud dengan 'tukar pikiran dan tukar pengalaman (menyerap pengalaman) yaitu pandangan dan pendapat yang tidak sama sebisa mungkin disatukan/ dihubungkan jadi satu, kemudian diambil kelebihannya dan dibuang kekurangannya, supaya dijadikan satu kesamaan atau pandangan yang sama, kontradiksi yang ada dalam hal-hal tersebut, dijadikan satu supaya mencapai solusi yang menyenangkan semua pihak.

Untuk dapat mencapai titik target tertentu, tak lain manusia harus bisa menguasai teknik pembicaraan itu, dan hal ini merupakan sesuatu yang dominan. Di sisi lain, masih ada yang lebih penting lagi, yaitu harus bisa lebih dahulu menghormati rekan yang diajak bicara biarpun itu adalah pembicaraan yang ringan / berat, maupun perdebatan yang sengit atau biasa, semua adalah sama. Menghormati orang lain adalah satu permulaan yang baik untuk menghilangkan benturan-benturan dalam proses perdebatan itu tadi.

Sikap dalam pembicaraan, bisa jadi pendengar yang baik dahulu, itu sudah merupakan penampilan yang sangat menghormati rekan bicaranya, Anda bisa menghormati dia, dia tentu akan berbalik menghormati anda. Kalau sudah begitu, maka urusan akan lebih mudah diselesaikan. Bila kedua belah pihak saling berdiri di titik-titik saling menghormati, menciptakan suasana yang dingin, maka semua persoalan akan lebih mudah didapatkan permufakatan (kompromi) bersama, menjadikan partner bicaranya akan lebih mudah menerima apa pendapat dari Anda.

Andaikata, dalam pembicaraan/perdebatan selalu memutuskan pembicaraan orang atau interupsi terus-menerus, itu adalah kurang sopan dan akan dibenci orang lain, juga tidak akan bisa menangkap pokok pikiran orang yang berbicara sehingga makin berbicara makin hambar atau makin debat makin menyimpang dari pokok pembicaraannya dan biasanya akan diakhiri dengan tidak menyenangkan semua pihak.

Dalam perdebatan atau pembicaraan, andai kata Anda tidak bisa menjadi seorang pendengar yang baik, mana mungkin menangkap arah pikiran rekan bicaranya? Juga bagaimana bisa menyalurkan pendapat anda padanya? Meskipun waktu itu konsep anda sangat indah, juga tidak akan mendapat simpati orang lain apalagi diterimanya. Kondisi bisa menjadi begitu buruk, penyebabnya adalah anda selalu merebut bicara terus dan tidak memberi kesempatan pada orang lain untuk berbicara, juga tidak tenang mendengar pendapat orang lain.

Kesimpulan akhir: Bila berdebat atau berbicara harus bisa menjadi pendengar yang baik dulu supaya rekan bicara bisa lebih mudah menerima pengaruh / inspirasi / argumentasi Anda, guna menghindari benturan-benturan atau gesekan-gesekan yang sama-sama tidak diinginkan.

salam.....

(sumber: 7 habits by Covey, dan berbagai buku motivasi)

Minggu, 22 April 2012

8 PANTANGAN SEHABIS MAKAN


1. MAKAN BUAH – BUAHAN
Kebiasaan makan buah setelah makan ternyata adalah kebiasaan yang keliru. 

Setelah makanan masuk ke lambung, lambung membutuhkan waktu 1 – 2 jam untuk mencerna. Jika seusai makan lalu menyantap buah, buah akan terhambat oleh makanan yang telah lebih dulu disantap, akibatnya buah – buahan tidak bisa tercerna secara normal. Jika berlangsung lama, akan menyebabkan gejala perut kembung, diare atau susah buang air besar dan gejala lainnya.

2. MINUM TEH KENTAL
Minum teh seusai makan, dapat mengencerkan getah lambung, akibatnya mempengaruhi pencernaan makanan. Selain itu, daun teh banyak mengandung tanin (asam tanat). Jika minum teh seusai makan, akan membuat protein yang belum sempat dicerna lambung menyatu dengan asam tanin dan membentuk sedimen yang tidak mudah dicerna sehingga mempengaruhi serapan protein.


Teh juga dapat menghambat serapan zat besi. 
Jika keadaan demikian berlangsung lama dapat terjadi gejala anemia karena kurang zat besi.

3. MEROKOK
Bahaya merokok sehabis makan lebih besar 10 kali lipat dibanding hari – hari biasa ! 

Ini dikarenakan peredaran darah pada saluran pencernaan sehabis makan meningkat, akibatnya sejumlah besar kandungan dalam rokok yang tidak baik bagi kesehatan diserap sehingga bisa merusak hati, otak besar dan pembuluh darah jantung serta juga menyebabkan penyakit pada aspek – aspek terkait ini.

4. MANDI
Mandi sehabis makan, volume aliran darah pada permukaan tubuh akan meningkat dan volume aliran darah pada saluran usus dan lambung akan berkurang sehingga membuat fungsi pencernaan usus lambung melemah dan menyebabkan pencernaan buruk.


5. MENGENDORKAN TALI PINGGANG
Mengendorkan ikat pinggang setelah makan, meskipun terasa agak nyaman tetapi hal tersebut dapat mengakibatkan turunnya tekanan dalam rongga perut, memaksa lambung turun (terjuntai).Jika kebiasan tersebut terus dilakukan, akan benar – benar mengidap lambung turun.


6. MAKAN ANGIN (BERJALAN – JALAN)
“Makan angin” sehabis makan, bukan saja tidak dapat hidup “99” (panjang umur) bahkan karena meningkatnya volume olahraga sehingga dapat mempengaruhi saluran pencernaan terhadap serapan gizi. 

Terutama manula, fungsi jantung melemah, penyempitan pembuluh darah, banyak berjalan seusai makan akan timbul gejala tekanan darah menurun dan lain – lain gejala.

7. BERKARAOKE
Seusai makan isi lambung kita membesar, dinding lambung menjadi tipis, volume aliran darah meningkat, saat demikian, bernyanyi dapat membuat sekat ronga badan pindah ke bawah, beban rongga perut bertambah. 

Jika ringan akan menyebabkan pencernaan buruk, sebaliknya dapat menyebabkan gangguan pada lambung dan gejala penyakit lainnya.

8. MENGEMUDIKAN MOBIL
Rawan terjadi kecelakaan jika habis makan lalu menjalankan kendaraan.Ini dikarenakan sehabis makan lambung dan usus membutuhkan sejumlah besar darah dalam mencerna makanan, mengakibatkan organ otak besar kekurangan darah untuk sementara waktu sehingga dengan demikian dapat menyebabkan kesalahan operasional.

Always do the best, tomorrow must be better than today…
 Good luck & may success always be with you…!!!

Sumber: Berbagai majalah kesehatan

Rabu, 18 April 2012

PERTAPA MUDA DAN KEPITING


Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, tampak seorang pertapa muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai.

Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar tidak beraturan.
Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya.
Pertapa itu segera melihat ke arah tepi sungai di mana sumber suara tadi berasal.
Ternyata, di sana tampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.

Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Karena itu, ia segera mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat tangan terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa muda. Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan si kepiting. Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya.
Belum lama bersila dan mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang sama dari arah tepi sungai. Ternyata kepiting tadi mengalami kejadian yang sama.

Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi membantunya. Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus lagi.

Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya makin membengkak karena jepitan capit kepiting.

Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang menghampiri dan menegur si pertapa muda, "Anak muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan hatimu yang baik.

Tetapi, mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukaimu hingga sobek seperti itu?"

"Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda.
Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih.

Maka, saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa menolong nyawa makhluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting," jawab si pertapa muda dengan kepuasan hati karena telah melatih sikap belas kasihnya dengan baik.
Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut sebuah ranting.

Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang terlihat kembali melawan arus sungai.

Segera, si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya.

"Lihat Anak Muda. Melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan.

Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong makhluk lain, bukankah tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri. Ranting pun bisa kita manfaatkan, betul kan ?"

Seketika itu, si pemuda tersadar.
"Terima kasih, Paman. Hari ini saya belajar sesuatu.

*Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan kebijaksanaan. **

*Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan yang Paman ajarkan."

Teman-teman , Mempunyai sifat belas kasih, mau memerhatikan dan menolong orang lain adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu kita berikan kepada anak kita, orangtua, sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun. Tetapi, kalau cara kita salah, sering kali perhatian atau bantuan yang kita berikan bukannya memecahkan masalah, namun justru menjadi bumerang.

Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa dan hanya sekadar berniat membantu, malah harus menanggung beban dan kerugian yang tidak perlu.
Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik, seharusnya diberikan dengan cara yang tepat dan bijak.
Dengan begitu, bantuan itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif
bagi yang dibantu, tetapi sekaligus membahagiakan dan membawa kebaikan pula bagi kita yang membantu.

salam.....
(sumber: cerita motivasi dan kehidupan)